Media Influence

What The Fcuk! saya bergumam dalam hati ketika melintasi gang di komplek perumahan saya dan mendengar sekumpulan anak-anak usia 5 – 7 tahun meneriakan nama Miyabi Bintang Porno. Menurut kabar yang beredar Miyabi ini akan datang ke Indonesia dalam rangka syuting film “Menculik Miyabi”. Memang saat ini nama Miyabi seolah-olah jadi trend dikalangan anak-anak dan orang dewasa. Lho kenapa Miyabi ini menjadi trend ? Konon kabarnya Aktris Jepang ini adalah bintang Porno yang telah membintangi puluhan bahkan ratusan film porno. Popularitasnya tidak hanya di Jepang, akan tetapi dibeberapa negara lain.
Lho kok jadi Trend lagi? Disamping rencana kedatangan beliau ini, dibeberapa tempat marak demo penolakan kedatangan Miyabi ke Indonesia dengan berbagai alasan misalnya akan memperburuk citra Indonesia di mata dunia. Yang menarik ketika saya lihat berita disalah satu televisi swasta adalah pelaku demo penolakan ini datang dari kalangan pelajar SMP dan SMA.. Mungkin saja mereka tahu jika Miyabi ini akan datang ke Indonesia melalui media (baca: televisi) yang menayangkan profil dan berita tentang Miyabi ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah media ini tidak melihat efek dari pemberitaan Miyabi sehingga menjadi sebuah trend dalam pemberitaan. Atau penjelasan dari pembawa berita mengenai kosa kata yang tidak tepat? Misalnya penggunaan kata “porno” dari kalimat “Bintang Porno Miyabi dari Jepang akan datang ke Indonesia”, dan tidak melihat komsumsi informasi yang disajikan kepada kalangan masyarakat bahkan anak-anak menjadi tidak tepat sasaran? Sangat menyedihkan memang jika akhirnya anak-anaklah yang menjadi efek terbesar dari pemberitaan media ini.
Sebagai contoh, dulu ketika usia saya menginjak umur 7 tahun, saya melihat satu judul berita dimedia cetak salah satu media ibukota yang jika saat ini saya lihat judulnya saja kocar kacir dan sambungan berita yang susah dicari pada halaman berikutnya. Judul berita tersebut ada mengandung kata “porno”. Jelas pada usia 7 tahun saya belum paham mengenai arti dari kata porno itu. Akhirnya saya bertanya kepada orangtua saya. Sejenak mereka kebingungan untuk mencari arti yang tepat untuk usia saya saat itu. Dengan cerdas mereka menjawab bahwa kata porno adalah “sejenis makan ringan”. Saya kembali melihat judul berita tersebut dan berusaha menerapkan dan mengartikan kata porno disambung dengan kalimat pada judul tersebut. Agak aneh memang menurut saya kok ujungnya ada “sejenis makanan ringan” diakhir judul berita itu. Dan kenangan sampai usia 11 tahun saya tetep mengingat kata porno artinya seperti yang dijelaskan orangtua.
Alangkah bijaknya jika media memilih kosa kata yang tepat pada pemberitaan, khusunya jika pada jam tayang yang menonton atau melihat kebanyakan adalah anak-anak. Terbukti yang banyak melakukan demo penolakan ternyata bukan dari kalangan orang dewasa. Apakah orang dewasa tidak peduli atau setuju saja ingin melihat dari dekat sosok Aktris Miyabi. Bagaimana dengan anda?
You’re currently reading “Media Influence”, an entry on TUKANG PUKUL BANDUNG
- Published:
- 10.17.09 / 12am
- Category:
- Galyn Z.
- Tags: